Tarian caci merupakan jenis tarian khas masyarakat Manggarai yang berwujud pada ekspresi budaya tradisional Manggarai di pulau flores, Nusatenggara Timur. Tarian ini merupakan Tarian yang dimainkan oleh dua penari laki-laki yang menari dan saling bertarung dengan menggunakan cambuk dan perisai sebagai senjatanya. Tarian caci ini juga merupakan salah satu kesenian tradisional yang cukup terkenal di pulau flores, Nusa Tengara Timur. Tarian ini sering di tampilkan di berbagai macam acara seperti syukuran musim panen ( hang woja ), ritual tahun baru (penti ), dan bebagai upacara adat lainya.
Namun, seiring perkembangan zaman, tarian ini sudah semakin punah. Hal ini terjadi karena uwa weru lebih tertarik untuk menunjukan jati diri di luar budaya manggarai. Akhir-akhir ini tarian caci sudah terkubur oleh tren tarian “Zamba”. Tarian Zamba itu sendiri merupakan tarian warisan budaya brazil yang mendunia. Sebagai seorang penulis, ada beberapa pertanyaan yang muncul dari pernyataan “Tarian Caci yang sudah terkubur oleh tren Dance”
yaitu: :
1. siapa yang menjadi generasi penerus untuk tetap mengawetkan sistem kebudayaan di Manggarai?
2. Lalu mengapa orang muda “ uwa weru “ di manggarai lebih mencintai budaya asing daripada mencintai budaya sendiri?
Untuk bisa menjawab itu saya akan mencoba mengulas beberapa sejarah penting dari tarian Caci :
1.Asal Mula Tarian Caci
Menurut sumber sejarah, nama tari caci secara etimologis berasal dari 2 (dua) suku kata yakni ca dan ci. Ca berarti satu dan ci berarti Lawan sehingga caci dapat diartikan sebagai uji ketangkasan satu lawa satu. Tarian caci ini berawal dari tradisi masyarakat manggarai dimana para laki-laki saling bertarung dan bermain secara berpasangan untuk menunjukan keberanian dan ketangkasan mereka dalam bertarung Namun prinsip utama dari tarian ini adalah sportif dan kreatif dalam aksi. Tarian ini kemudian berkembang menjadi sebuah kesenian dimana terdapat gerak tari, lagu dan musik pengiring untuk memeriahkan acara.
Tarian ini sudah sangat melekat dalam kehidupan masyarakat Manggarai karena tarian ini merupakan tarian atraksi dari bumi congkasae.
2.Makna Nilai-Nilai Dalam Tarian Caci
Sebagaimana fungsinya, tarian ini merupakan media bagi para laki – laki manggarai dalam membuktikan kejantanan mereka, baik dalam segi keberanian maupun ketangkasan. Walaupun terkandung unsur kekerasan di dalamnya, kesenian ini memiliki pesan damai di dalamnya seperti semangat sportivitas, saling menghormati, dan diselesaikan tanpa ada dendam diantara mereka. Hal inilah yang menununjukan bahwa mereka memiliki semangat dan jiwa kepahlawanan di dalam diri mereka.
3.Pertunjukan caci
Tarian caci ini di lakukan oleh sekelompok penari laki – laki dengan bersenjata cambuk dan perisai. Dalam pertunjukannya, sekelompok penari di bagi menjadi dua bagian dan di pertandingkan satu lawan satu. Sebelum penari di pertandingkan, pertunjukan terlebih dahulu diawali dengan tari tandak atau tari danding manggarai. Tarian tersebut dilakukan oleh penari laki – laki dan perempuan sebagai pembuka acara dan meramaikan pertunjukan tari caci. Setelah Tarian pembuka selesai kemudian dilanjutkan dengan antraksi Tari Caci.
Saat kedua penari akan memasuki arena, penari terlebih dahulu melakukan pemanasan dengan melakukan gerak tari. Kemudian mereka saling menantang sambil menyanyikan lagu-lagu adat, lalu pertandingan pun dimulai, dalam antraksi ini juga terdapat beberapa aturan, pemain hanya boleh memukul pada aturan, pemain hanya boleh memukul pada tubuh bagian atas lawanya seperti bagian lengan, punggung atau dada.
Selain itu penari harus bisa menangkis atau menghindar dari serangan lawan dan menyisakan luka ditubuhnya, bahkan hingga berdarah. Pemain bertahan akan dinyatakan kalah apabila terkena cambuk di matanya. Setelah semua penari sudah dimainkan, kemudian kedua kelompok dikumpulkan dan melakukan jabat tangan atau berangkulan sebagai tanda damai dan tidak ada dendam di antar mereka.
Lalu bagaimana hubungannya dengan orang muda “ uwa weru “?
1.Orang muda “ Uwa weru “ sekarang cendrung untuk lebih memilih kegiatan yang menantang dengan keadaan zaman sekarang, daripada harus melakukan kegiatan yang memilik unsur budaya, hal yang menjadi pemicu utama yaitu kehadiran sosial media yang sangat berdampak pada suatu kehancuran masa depan budaya Manggarai. Sehingga berdampak pada kehilangan budaya Manggarai.
2.Mengapa orang muda “ uwa weru “ cendrung mencintai budaya luar?
Menurut penulis hal ini terjadi karena orang muda “ uwa weru “ sudah terbelenguh oleh tren di kehidupan Coffe, dimana sebuah coffe menayangkan beberapa kegiatan yakni live musik bergendre,jas, reggae dan hip-hop. Kehadiran tren itu yang membuat kehidupan budaya manggarai sudah terkubur oleh kebiasaan orang muda “ uwa weru “ yang tidak mampu mencegah kehadiran yang memacuh pada perkembangan zaman, membuat orang muda “ uwa weru “ lebih tertarik untuk menari zamba yang notabene merupakan budaya luar manggarai.
Penulis : Ferdinandus Egor
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar