Cyberspace jika di artikan ke dalam bahasa indonesia yaitu Dunia maya. Cyberspace atau dunia maya merupakan media elektronik yang ada dalam jaringan komputer dan banyak di pakai oleh orang untuk keperluan komunikasi, mengakses halaman dan menyebar informasi secara online dan terhubung langsung tanpa berpatokan dengan batasan waktu.
Gempuran arus globalisasi semakin terasa di akhir-akhir ini. Masyarakat di tuntut untuk lebih bijak dalam penggunaan media di dunia modern ini, karena selain di hadapkan dengan beragam kemudahan,kita juga tidak luput dari berbagai ancaman yang kemungkinan terjadi apabila kita tidak arif menyikapi kemudahan yang di tawarkan oleh kemajuan zaman seperti sekarang ini.
Karena Kemudahan ini, kita seakan terlena karena sudah terbiasa di perlakukan manja dengan beberbagi tawaran-tawaran yang sangat menarik , dimana kita bebas untuk berekspresi, bahkan banyak dari kalangan pengguna media yang kerap kali memanfaatkan media sebagai salah satu tempat pilihan untuk mengungkapkan segalah bentuk perasaan dan isi hati (Curhat).
Memang benar, kehadiran internet memiliki keuntungan (sisi positif) dengan memberi ruang kekebasan bagi kita sebagai generasi yang tengah menikmati kemajuan zaman, namun di sisi lain tentu ada dampak buruk atau resiko (sisi negatif) dari lahirnya teknologi canggih ini.
Berbicara mengenai dampak buruk, saya merasa tertarik untuk membahas budaya lejong (bertamu) yang memiliki hubungan yang sangat erat dengan sifat sosial masyarakat Manggarai (Flores;NTT).
Dulu sebelum lahirnya teknologi ini, lejong merupakan sebuah kebiasaan yang di lakukan oleh hampir semua masyarakat Manggarai, mungkin hanya untuk sekedar bersenda gurau atau hanya sekedar menghabiskan waktu *dari leso gula (berjemur di mata hari pagi) sebelum berkebun atau sore hari sepulang dari kebun sembari menyaksikan keindahan matahari terbenam di kala senja, sambil di temani segelas kopi pa’it (tanpa campuran gula) yang sebentar lagi di ganti suasana sunyi dan gelap (suasana di desa).
Lejong dalam kehidupan orang Manggarai, merupakan suatu momentum untuk mendiskusikan beragam topik mulai dari membahas masalalah politik, masalah sosial, dan masalah-masalah yang lainnya, berdasarkan sudut pandang *ata beo (warga kampung).
Kebiasaan ini yang di wariskan secara turun-temurun, tanpa adanya warisan tertulis, yang semakin kesini menjadi budaya yang identik dengan rasa peduli sesama orang Manggarai.
Lejong memberikan ruang bagi kaum muda untuk belajar beretika dan bertutur kata dengan sesama dilihat dari sudut pandang budaya Orang Manggarai. Lejong juga memeberikan kesempatan bagi orang tua untuk menanam nilai-nilai luhur budaya manggarai secara lisan (tanpa melalu proses belelajar mengajar di lembaga pendidikan).
Singkatnya lejong menjadi wadah bagi orang Manggarai untuk bersosialisasi dan membentuk karakter sebagai uwa weru (anak muda) penerus Nuca lale. Kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi terlebih khusunya sejak lahirnya internet sangat berdampak pada hilangnya kebudayaan lokal yang menjadi kebanggaan tersendiri yang selalu di agung-agungkan oleh orang Manggarai.
Sejak mengenal internet dan keseringan eksis di dunia maya menjadikan *uwa weru bukan lagi menjadi pribadi yang selalu berinterasksi dengan sesama melainkan menjadi sosok yang “kuper” (kurang pergaulan) karena cenderung menutup diri. Kehadiran facebook, twiter, instragram, whatsapp, BBM, dan sosial media lainnya bukan lagi menjadi katalisator dalam mempererat budaya lejong, melainkan menjadi pembunuh untuk menghilangkan budaya lokal ini.
Itulah faktor yang menjadikan *uwa weru, cendrung lupa dan bahkan tidak tahu yang namanya *lejong, karena selalu sibuk dan asyk berkayal dengan dunianya sendiri. Dimana dunia itu adalah dunia maya.
Sosial media atau yang lebih keren di sebut “sosmed” sudah menjadi kekasih pilihan yang sangat sulit di pisahkan dari kehidupan *uwa weru Manggarai. Hal tersebut di karenakan dengan hadirnya sosmed yang di anggap mampu menjawab semua kesulitan dan masalah sosial yang sedang melandai pikiran kaum *uwa weru. Itu terbukti ketika kaum muda cendrung meng-update semua hal yang mereka lakukan, termasuk masalah pribadi sekalipun ke akun jejaringan sosial miliknya.
Sejuta harapan semoga ada yang mampu menemukan solusi (jalan keluar), pada hal kita lupa bahwasannya kita sudah memiliki budaya yang sangat bagus yakni *lejong, yang seharusnya menjadi wadah bagi kaum muda untuk berdiskusi termasuk membahas masalah pribadi sekalipun tanpa harus mengubar ke publik.
Kehadiran dunia maya ini sangat mengurangi sifat sosial dan empati *uwa weru, sudah tidak lagi di temukan rasa memliki sebagai seorang *ase kae (saudara), yang ada hanya ego dan ingin menang sendiri. Karena cenderung lebih suka berhubungan lewat internet dari pada bertatap muka secara langsung (face to face). Faktor perubahan sifat sosial yang berubah dapat mengakibatkan pola pikir *uwa weru dalam hal berinterasi.
Sehingga dengan mudah terjerumus kedalam kejahatan dunia maya, seperti menipu dan mencuri di kerenakan krimal tersebut dapat di program melalui Internet yang sedang viral di dunia maya. Terkadang *uwa weru dengan mudah jatuh dan boleh di bilang sebagai seorang pecandu, terutama menyangkut “Pornografi”. Faktor ini yang dapat menghabiskan uang karena hanya untuk melayani kecanduan dan hawa nafsu.
Perubahan sifat sosial juga terlihat dari tutur kata kaum muda cenderung kasar,tidak tahu sopan-santun dan tidak dapat menempatkan diri dalam berinterasi dengan sesama, baik itu di dunia maya maupun di dunia nyata meskipun hanya segelintir kaum muda. Perubahan sifat sosial ini merupakan dampak dari lahirnya teknologi canggih.
*uwa weru terkadang merasa dirinya sebagai pribadi yang paling sempurna dari orang lain, sehingga jarang dan bahkan memilih untuk tidak berinteraksi dan bersosialisasi di dunia nyata (lejong). Karena lebih akrab dengan dunia maya.
Namun terkadang kita sebagai *uwa weru lupa kalau sebenarnya sosmed yang selalu di puji itu, bisa saja membawa kita kedalam sebuah tantangan yang cukup serius.
Namun sangat di sayangkan, kaum muda (uwaweru) sudah terlanjur jatuh cinta dan dengan mudah mempercayai sosmed sebagai pemuas dari berbagai macam kebutan dan persoalan dalam hidup. Akibatnya budaya Lejong perlahan mulai hilang dan kian terkubur bersama keriuhan arus glabalisasi dan trand masa kini.Sekian!!
Pesan saya untuk *uwa weru : “Tidak semua hal bisa mendapatkan solusi dari sosial media, ada hal-hal tertentu yang tidak mampu di jawab oleh sosial media dan bisa di jawab oleh lejong”.
Dan penulis menganjurkan : tinggalkan ego pribadi dan mulailah untuk budayakan "lejong".
Salam Hangat
Penulis : OSWALDUS SIRNO
Marjinnews.com
osthjunas.blogspot.com
Mahasiswa Manggarai di Surabaya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar