Sabtu, 03 Maret 2018

Teriakan merdeka dari papua ( penulis: Oswaldus Sirno )

Bhineka Tinggal Ika untuk Papua dan Indonesia.
Bhineka tunggal ika yang artinya ‘berbeda-beda tapi tetap satu’. begitu bait pembuka puisi seorang anak ketika mengikuti lomba membaca puisi di Ibu kota.

Tapi tidak bagi kami...(teriakan seorang bocah memecah keheningan) ketika mendengar teriakan seorang temannya tadi yang tengah membaca sebait puisi di depan kepala sekolah dan jajaran kepengurusan sekolah.
Bineka Tunggal Ika (BTI) sudah tidak berlaku di Negeri ini*lanjut nya.

Mengapa demikian?
Karena kita seperti orang asing di negeri sendiri,
Yang berlaku di Indonesia adalah siapa Mayoritas dan siapa minoritas?
Siapa yang kulit putih?
Siapa yang rambut Lurus?

Lingkaran pergaulan sangat sempit.
Karena berpatokan pada kaya dan miskin, hitam dan putih, lurus, kriting dan ombak.

Banyak buku yang menjelaskan bagaimana perjuangan para pahlawan. Dari semua penjuru Indonesia, tanpa memandang suku,budaya,agama dan ras.

Coba bayangkan “apa yang terjadi apabila yang berjuang melawan para penjajah adalah mereka yang rambut kriting dan kulit hitam?
Ataupun sebaliknya?
Apakah kita akan merdeka seperti sekarang ini?
Tidakkan?

Mencintai Indonesia, berarti siap mencintai semua perbedaan itu.
Kita harus siap menerima dan mencintai sesama dengan menghargai keberagaman yang ada.
Tidak perlu egois untuk hidup di Negeri yang notabene penduduknya dari berbagai rupa.
Jangan jadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk membeci.

Sampai saat ini saya belum temukan jawaban, kira-kira faktor apa sehingga selalu ada kebencian karna latar belajang yang berbeda?
Apakah salah kami menutut hak yang sama di Negara sendiri?
Kami seakan-akan seperti warga negara asing yang masuk dan belajar di Indonesia. Sahutnya.

Resah,marah dan sakit hati. Itulah yang di rasakan seorang minor ketika berada di posisi itu!

Sekejam itukah hidup jadi minor diantara mayor? (nyata)
Ibarat seekor domba yang berada di antara ribuan serigala.

Bukankah hak dan kewajiban seorang warga negara di hitung satu?
Sama-sama mencari jawaban atas ribuan pertanyaan anak negeri.
Dengan satu tujuan*Mencerdaskan kehidupan bangsa* Kemana bunyi kalimat itu pergi?

Semua orang terpaku, ketika melihat sang anak mengambar sebuah taman bunga dengan krayon kesayangannya.
Lalu katanya;
Indonsia inu seperti taman safari, banyak bunga yang berwarna-warni tumbuh dan hidup di dalamnya.

Siapkah kita beragam tanpa harus membuat orang lain terluka?
Mampukah kita untuk mencintai tanpa harus melihat perbedaan itu?

Disisi lain,
Undang-undang dan aturan  yang berlaku di ukur dari seberapa tebal map coklat yang di berikan kepada pihak-pihak yang berwenang.
Sedangkan di Daerah sana masih banyak yg rindu dengan koin 500 rupiah.
Apakah ini karena faktor perbedaan juga?

Disana kerap kali terjadi tawar menawar.
Apakah hukum di Indonesia ibarat pasar penjual bunga?
Tempat bertemunya penjual dan pembeli yang sedang memperjual belikan barang dengan tujuan saling mengtungkan?

Lucunya  negeri ini, hukuman bisa di beli.
Banyak orang miskin di desa jadi tontonan (kutipan lirik lagu “Bona Paputungan”)

Bantuan yang mengatasnamakan rakyat miskin hanya untuk memenuhi  kebutuhan pribadi dan untuk membahagiakan orang-orang terdekat.

Inikah namanya Merdeka?

Saya ingin sekali menghormati bendera Merah putih tanpa beban dan kemunafikan.
Banyak buku sejarah yang mengatakan ; Bendera adalah Lambang dari kejayaan sebuah Negara, dan sangat di hormati oleh Rakyatnya, termasuk Indonesia.

Apakah mereka perna membacanya?
Kalau perna mengapa hal ini terjadi?

Bahkan untuk mengibarkan sang saka merah putih ini banyak jiwa yang telah berkorban, banyak istri yang menjadi janda dan anak yang menjadi yatim piatu. Hanya demi sehelai kain yang menyimpan beribu makna di balik warna merah dan putih.

Ah, semestinya sudah dari awal kita tahu kalau kita sudah merdeka, namun kita sudah terbelenguh dengan kemikmatan duniawi.
Merdeka hanya muncul saat ajang sebelum Pemilu di mulai.
Semua partai sibuk mencari  koalisi.


Sehingga tidak salah muncul dengan masing-masing punya persepsi, tujuan dan kepentingan sendiri.
Saling berebut posisi dan dominasi.
Saling berebut menjadi yang nomor satu ataupun sekadar bagi-bagi jatah menteri.

Peduli amat dengan kepentingan umat, yang penting kepentingan pribadi, dan partai terpenuhi.

Idealisme di nomorsekiankan oleh ambisi dan tendensi. Tanpa sadar anak itu menitikkan air mata, entah apa yang di rasakannya saat itu.

Namun selembar surat di tulisnya, lalu di berikan kepada seorang guru.
Surat itu berisikan dua pertanyaan yaitu =
1.Dapatkah saya menemukan jawabannnya?
2.Kalau memang iya, adakah yang mampu menjelaskannya?

Sekian!!
Tangisan seorang anak dari pelosok Negeri.

Rabu, 21 Februari 2018

TARIAN CACI YANG TERKUBUR OLEH TREN DANCE “ZAMBA” (Oleh : Ferdinandus Egor )

Tarian caci merupakan jenis tarian khas masyarakat Manggarai yang berwujud pada ekspresi budaya tradisional Manggarai di pulau flores, Nusatenggara Timur. Tarian ini merupakan Tarian yang dimainkan oleh dua penari laki-laki yang menari dan saling bertarung dengan menggunakan cambuk dan perisai sebagai senjatanya. Tarian caci ini juga merupakan salah satu kesenian tradisional yang cukup terkenal di pulau flores, Nusa Tengara Timur. Tarian ini sering di tampilkan di berbagai macam acara seperti syukuran musim panen ( hang woja ), ritual tahun baru (penti ), dan bebagai upacara adat lainya.

Namun, seiring perkembangan zaman, tarian ini sudah semakin punah. Hal ini terjadi karena uwa weru lebih tertarik  untuk menunjukan jati diri di luar budaya manggarai. Akhir-akhir ini tarian caci sudah terkubur oleh tren tarian “Zamba”. Tarian Zamba itu sendiri merupakan tarian warisan budaya brazil yang mendunia. Sebagai seorang penulis, ada beberapa pertanyaan yang muncul dari pernyataan “Tarian Caci yang sudah terkubur oleh tren Dance”
yaitu:  :
1. siapa yang menjadi generasi penerus untuk tetap  mengawetkan sistem kebudayaan di  Manggarai?
2. Lalu mengapa orang muda “ uwa weru “ di manggarai lebih mencintai budaya asing daripada mencintai budaya sendiri?
Untuk bisa menjawab itu saya akan mencoba mengulas beberapa sejarah penting dari tarian Caci :
1.Asal Mula Tarian Caci
Menurut sumber sejarah, nama tari caci secara etimologis berasal dari 2 (dua) suku kata yakni ca dan ci. Ca berarti satu dan ci berarti Lawan sehingga caci dapat diartikan sebagai uji ketangkasan satu lawa satu. Tarian caci ini berawal dari tradisi masyarakat manggarai dimana para laki-laki saling bertarung dan bermain secara berpasangan untuk menunjukan keberanian dan ketangkasan mereka dalam bertarung Namun prinsip utama dari tarian ini adalah sportif dan kreatif dalam aksi. Tarian ini kemudian berkembang menjadi sebuah kesenian  dimana terdapat gerak tari, lagu dan musik pengiring untuk memeriahkan acara.
Tarian ini sudah sangat melekat dalam kehidupan masyarakat Manggarai karena tarian ini merupakan tarian atraksi dari bumi congkasae.
2.Makna Nilai-Nilai Dalam Tarian Caci
Sebagaimana fungsinya, tarian ini merupakan media bagi para laki – laki manggarai dalam membuktikan kejantanan mereka, baik dalam segi keberanian maupun ketangkasan. Walaupun terkandung unsur kekerasan di dalamnya, kesenian ini memiliki pesan damai di dalamnya seperti semangat sportivitas, saling menghormati, dan diselesaikan tanpa ada dendam diantara mereka. Hal inilah yang menununjukan bahwa mereka memiliki semangat dan jiwa kepahlawanan di dalam diri mereka.

3.Pertunjukan caci
Tarian caci ini di lakukan oleh sekelompok penari laki – laki  dengan bersenjata cambuk dan perisai. Dalam pertunjukannya, sekelompok penari di bagi menjadi dua bagian dan di pertandingkan satu lawan satu. Sebelum penari di pertandingkan, pertunjukan terlebih dahulu diawali dengan tari tandak atau tari danding manggarai. Tarian tersebut dilakukan oleh penari laki – laki dan perempuan sebagai pembuka acara dan meramaikan pertunjukan tari caci. Setelah Tarian pembuka selesai kemudian dilanjutkan dengan antraksi Tari Caci.

Saat kedua penari akan memasuki arena, penari terlebih dahulu melakukan pemanasan dengan melakukan gerak tari. Kemudian mereka saling menantang sambil menyanyikan lagu-lagu adat, lalu pertandingan pun dimulai, dalam antraksi ini juga terdapat beberapa aturan, pemain hanya boleh memukul pada aturan, pemain hanya boleh memukul pada tubuh bagian atas lawanya seperti bagian lengan, punggung atau dada.

Selain itu penari harus bisa menangkis atau menghindar dari serangan lawan dan menyisakan luka ditubuhnya, bahkan hingga berdarah. Pemain bertahan akan dinyatakan kalah apabila terkena cambuk di matanya. Setelah semua penari sudah dimainkan, kemudian kedua kelompok dikumpulkan dan melakukan jabat tangan atau berangkulan sebagai tanda damai dan tidak ada dendam di antar mereka.

Lalu bagaimana hubungannya dengan orang muda “ uwa weru “?
1.Orang muda “ Uwa weru “ sekarang cendrung untuk lebih memilih kegiatan yang  menantang dengan keadaan zaman sekarang, daripada harus melakukan kegiatan yang memilik unsur budaya, hal yang menjadi pemicu utama yaitu kehadiran sosial media yang sangat berdampak pada suatu kehancuran masa depan budaya Manggarai. Sehingga berdampak pada kehilangan budaya Manggarai.
2.Mengapa orang muda “ uwa weru “ cendrung mencintai budaya luar?
Menurut penulis hal ini terjadi karena orang muda “ uwa weru “ sudah terbelenguh oleh tren di kehidupan Coffe, dimana sebuah coffe menayangkan  beberapa kegiatan yakni live musik bergendre,jas, reggae dan hip-hop. Kehadiran tren itu yang membuat kehidupan budaya manggarai sudah terkubur oleh kebiasaan orang muda “ uwa weru “ yang tidak mampu mencegah kehadiran yang memacuh pada perkembangan zaman, membuat orang muda “ uwa weru “ lebih tertarik untuk menari zamba yang notabene merupakan budaya luar manggarai.

Penulis : Ferdinandus Egor
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia.

Selasa, 20 Februari 2018

Budaya “Lejong” yang sudah terkubur oleh tren “cyberspace” masa kini. (oleh : Oswaldus Sirno)

Cyberspace jika di artikan ke dalam bahasa indonesia yaitu Dunia maya. Cyberspace  atau dunia maya merupakan media elektronik yang ada dalam jaringan komputer dan banyak di pakai oleh orang untuk keperluan komunikasi, mengakses halaman dan menyebar informasi secara online dan terhubung langsung tanpa berpatokan dengan batasan waktu.

Gempuran arus globalisasi semakin terasa di akhir-akhir ini. Masyarakat di tuntut untuk lebih bijak dalam penggunaan media di dunia modern ini, karena selain di hadapkan dengan beragam kemudahan,kita juga tidak luput dari berbagai ancaman yang kemungkinan terjadi apabila kita tidak arif menyikapi kemudahan yang di tawarkan oleh kemajuan zaman seperti sekarang ini.
Karena Kemudahan ini, kita seakan terlena karena sudah terbiasa di perlakukan manja dengan beberbagi tawaran-tawaran yang sangat menarik , dimana kita bebas untuk berekspresi, bahkan banyak dari kalangan pengguna media yang  kerap kali memanfaatkan media sebagai salah satu tempat pilihan untuk mengungkapkan segalah bentuk perasaan dan isi hati (Curhat).

Memang benar, kehadiran internet memiliki keuntungan (sisi positif) dengan memberi ruang kekebasan bagi kita sebagai generasi yang tengah  menikmati kemajuan zaman, namun di sisi lain tentu ada dampak buruk atau resiko (sisi negatif) dari lahirnya teknologi canggih ini.
Berbicara mengenai dampak buruk, saya merasa tertarik untuk membahas budaya lejong (bertamu) yang memiliki hubungan yang  sangat erat dengan sifat sosial masyarakat Manggarai (Flores;NTT).

Dulu sebelum lahirnya teknologi ini, lejong merupakan sebuah kebiasaan yang di lakukan oleh hampir semua masyarakat Manggarai, mungkin hanya untuk sekedar bersenda gurau atau hanya sekedar menghabiskan waktu *dari leso gula (berjemur di mata hari pagi) sebelum berkebun atau sore hari sepulang dari kebun sembari menyaksikan keindahan matahari terbenam di kala senja,  sambil di temani segelas kopi pa’it (tanpa campuran gula) yang sebentar lagi di ganti suasana sunyi dan gelap (suasana di desa).

Lejong dalam kehidupan orang Manggarai, merupakan suatu momentum untuk mendiskusikan beragam topik mulai dari membahas masalalah politik, masalah sosial, dan masalah-masalah yang lainnya, berdasarkan sudut pandang *ata beo (warga kampung).

Kebiasaan ini yang di wariskan secara turun-temurun, tanpa adanya warisan tertulis, yang semakin kesini menjadi budaya yang identik dengan rasa peduli sesama orang Manggarai.
Lejong memberikan ruang bagi kaum muda untuk belajar beretika dan bertutur kata dengan sesama dilihat dari sudut pandang budaya Orang Manggarai. Lejong juga memeberikan kesempatan bagi orang tua untuk menanam nilai-nilai luhur budaya manggarai secara lisan (tanpa melalu proses belelajar mengajar di lembaga pendidikan).

Singkatnya lejong menjadi wadah bagi orang Manggarai untuk bersosialisasi dan membentuk karakter sebagai uwa weru (anak muda) penerus Nuca lale. Kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi terlebih  khusunya sejak lahirnya internet sangat berdampak pada hilangnya kebudayaan lokal  yang menjadi kebanggaan tersendiri yang selalu di agung-agungkan oleh orang Manggarai.

Sejak mengenal internet dan keseringan eksis di dunia maya menjadikan *uwa weru bukan lagi menjadi pribadi yang selalu berinterasksi dengan sesama melainkan menjadi sosok yang “kuper” (kurang pergaulan) karena cenderung menutup diri. Kehadiran facebook, twiter, instragram, whatsapp, BBM, dan sosial media lainnya bukan lagi menjadi katalisator dalam mempererat budaya lejong, melainkan menjadi pembunuh untuk menghilangkan budaya lokal ini.

Itulah faktor yang menjadikan *uwa weru, cendrung lupa dan bahkan tidak tahu yang namanya *lejong, karena selalu sibuk dan asyk berkayal  dengan dunianya sendiri. Dimana dunia itu adalah dunia maya.

Sosial media atau yang lebih keren di sebut “sosmed” sudah menjadi kekasih pilihan yang sangat sulit di pisahkan dari kehidupan *uwa weru Manggarai. Hal tersebut di karenakan dengan hadirnya sosmed yang di anggap mampu menjawab semua kesulitan dan masalah sosial yang sedang melandai pikiran kaum *uwa weru. Itu terbukti ketika kaum muda cendrung  meng-update semua hal yang mereka lakukan, termasuk masalah pribadi sekalipun ke akun jejaringan sosial miliknya.

Sejuta harapan semoga ada yang mampu menemukan solusi (jalan keluar), pada hal kita lupa bahwasannya kita sudah memiliki budaya yang sangat bagus yakni *lejong, yang seharusnya menjadi wadah bagi kaum muda untuk berdiskusi termasuk membahas masalah pribadi sekalipun tanpa harus mengubar ke publik.

Kehadiran dunia maya ini sangat mengurangi sifat sosial dan empati *uwa weru, sudah tidak lagi  di temukan rasa memliki sebagai seorang *ase kae (saudara), yang ada hanya ego dan ingin menang sendiri. Karena cenderung lebih suka berhubungan lewat internet dari pada bertatap muka secara langsung (face to face). Faktor perubahan sifat sosial yang berubah dapat mengakibatkan pola pikir *uwa weru  dalam hal berinterasi.

Sehingga dengan mudah terjerumus kedalam kejahatan dunia maya, seperti menipu dan mencuri di kerenakan krimal tersebut dapat di program melalui Internet yang sedang  viral  di dunia maya. Terkadang *uwa weru dengan mudah jatuh dan boleh di bilang sebagai seorang pecandu, terutama menyangkut “Pornografi”. Faktor ini yang dapat menghabiskan uang karena hanya untuk melayani kecanduan dan hawa nafsu.

Perubahan sifat sosial juga terlihat dari tutur kata kaum muda cenderung kasar,tidak tahu sopan-santun dan tidak dapat menempatkan diri dalam berinterasi dengan sesama, baik itu di dunia maya maupun di dunia nyata meskipun hanya segelintir kaum muda.  Perubahan sifat sosial ini merupakan dampak dari lahirnya teknologi canggih.

*uwa weru terkadang merasa dirinya sebagai pribadi yang paling sempurna dari orang lain, sehingga jarang dan bahkan memilih untuk tidak berinteraksi dan bersosialisasi di dunia nyata (lejong). Karena lebih akrab dengan dunia maya.
Namun terkadang kita sebagai *uwa weru lupa kalau sebenarnya sosmed yang selalu di puji itu, bisa saja membawa kita kedalam sebuah tantangan yang cukup serius.
Namun sangat di sayangkan, kaum muda (uwaweru) sudah terlanjur jatuh cinta dan dengan mudah mempercayai sosmed sebagai pemuas dari berbagai macam kebutan dan persoalan dalam hidup. Akibatnya budaya Lejong perlahan mulai hilang dan kian terkubur bersama keriuhan arus glabalisasi dan trand masa kini.Sekian!!

Pesan saya untuk *uwa weru : “Tidak semua hal bisa mendapatkan solusi dari sosial media, ada hal-hal tertentu yang tidak mampu di jawab oleh sosial media dan bisa di jawab oleh lejong”.
Dan penulis menganjurkan : tinggalkan ego pribadi dan mulailah untuk budayakan "lejong".

Salam Hangat
Penulis : OSWALDUS SIRNO
Marjinnews.com
osthjunas.blogspot.com
Mahasiswa Manggarai di Surabaya

FLORES PULAUKU

kehidupan mahal di pulau kerdil yang tandus dan miskin
Betahan dengan beras kotor, ikan laut dan garam
Listrik tidak ada hanya tiang hiasan menjulang berpukuhan tahun
Gelap malam terhibur suara merdu hewan

Aparat sombong bertunjangan di atas tanpa bata.
Hidup mewah di atas penderitan                  rakyat yang kian berat
Gerah dan panas malam berhembus              mesin pendingin ruangan
Terpulaskan tidur sang abadi negri              dengan fasilitas rampokan.

Jalan berlaksa lebar tak beraspal dan terlicinkan oleh hujan
Pembangunan setengah hati tujuan gensi dan korupsi
Bukan kesejatraan tetapi pergerukan dan penindasan.
Rakyat meratap mohon cepat dapat jabatan bermartabat.

Ku hela nafas panjang dan mengelus dadaku.
Abdi masyarakat tak merakyat,                        apatur negri yang buta dan tuli nurani.
Rakyat di miskinkan, di bodohkan dan di injak-injak haknya.
Saatnya rakyat pulau miskin lawan.
kemiskinan struktural dan ketidakadilan    sosial.

Oleh : Ferdinandus Egor
(Mahasiswa Bahasa Dan Sastra Surabaya).